Miris! Jembatan Harapan - Suka Maju Roboh Lagi, PUPR Akui Darurat Tahun Lalu Gagal, Warga Sindir Perjalanan Dinas Miliaran - Warta Global Gorontalo

Mobile Menu

Top Ads

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Miris! Jembatan Harapan - Suka Maju Roboh Lagi, PUPR Akui Darurat Tahun Lalu Gagal, Warga Sindir Perjalanan Dinas Miliaran

Senin, 19 Oktober 2026
Gorontalowartaglobal.Id-BOALEMO- Kondisi memprihatinkan terjadi di Kecamatan Wonosari. Jembatan penghubung Desa Harapan dan Desa Suka Maju yang menjadi akses vital petani, pelajar, dan masyarakat umum dilaporkan roboh.

Warga pun terpaksa melakukan perbaikan swadaya menggunakan batang kayu kelapa agar tetap bisa melintas.

Perwakilan masyarakat, Yudi H Setiawan, warga Desa Harapan Dusun Abadi 2, mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, pemerintah hanya datang mengambil dokumentasi dan mengumbar janji, namun hingga kini tidak ada realisasi permanen.

"Jembatan ini sudah lama rusak tapi kami masyarakat melakukan perbaikan swadaya, melakukan pembangunan dari kayu kelapa," kata Yudi kepada media via WhatsApp pada Minggu malam 18 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, ada jalan alternatif lain, namun jaraknya jauh dan sangat membebani warga. Jika lewat jembatan, BBM yang dibutuhkan hanya setengah liter, namun jika memutar lewat jalur alternatif bisa menghabiskan 3 liter.

"Beban ini semakin berat dirasakan petani jagung dan padi. Di tengah langkanya BBM, petani menjadi lebih susah karena akses jalan alternatif harus memutar dan melewati beberapa desa, sehingga biaya operasional menjadi jauh lebih besar" tambah Yudi.

Menanggapi keluhan tersebut, kepala Dinas PUPR Kabupaten Boalemo saat dikonfirmasi membenarkan pernah melakukan penanganan.

"Penanganan darurat tahun lalu. Tapi jembatan darurat roboh lagi," ujar Supandra Nur kepala Dinas PUPR.

PUPR juga menjelaskan, untuk pembangunan permanen, proses pengajuannya berada di BPBD Boalemo untuk diteruskan ke BNPB pusat.

Namun bagi warga, penantian itu terlalu lama dan berisiko. Yudi khawatir akan ada korban jika terus dibiarkan, karena warga tetap memaksakan diri lewat jembatan rusak demi menghemat biaya.

"Jangan hanya janji-janji terus. Jangan sampai ada korban yang akan jatuh di situ. Jangan sampai ada siswa yang jatuh, petani, dan masyarakat lainnya," tegasnya.

Puncaknya, Yudi melayangkan sindiran keras terkait prioritas anggaran pemerintah daerah.

"Di tengah jembatan yang roboh, petani yang mengalami kemarau panjang, masyarakat yang susah mengakses kebutuhan, apakah besar anggaran perjalanan dinas yang mencapai miliaran rupiah itu sebanding dengan kebutuhan rakyat? Jika perjalanan dinas bisa dievaluasi dan dianggarkan, mengapa kebutuhan masyarakat tidak menjadi perhatian utama?" sindir Yudi.

Ia menuntut langkah nyata dari Bupati Boalemo dan Anggota DPRD. Jika pembangunan permanen butuh proses anggaran yang panjang di BNPB, setidaknya pemerintah melakukan penanganan darurat yang aman dan layak sambil menunggu.

"Kami menuntut langkah nyata kalian. Lakukanlah penanganan darurat yang aman, layak, dan dapat dipertanggung jawabkan," tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan, media masih berupaya mendapatkan konfirmasi resmi dari BPBD Kabupaten Boalemo terkait status pengajuan anggaran jembatan tersebut ke BNPB.

KALI DIBACA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar